Berita AcehBerita NasionalBreaking News

Raker Apeksi di Banda Aceh: Konsolidasi Kota Hadapi Tekanan Fiskal, Ancaman Iklim, dan Transformasi Digital

11
×

Raker Apeksi di Banda Aceh: Konsolidasi Kota Hadapi Tekanan Fiskal, Ancaman Iklim, dan Transformasi Digital

Sebarkan artikel ini
Raker Apeksi Komwil I di Banda Aceh bahas tekanan fiskal, perubahan iklim, dan kolaborasi antar kota. Illiza tekankan pentingnya kota tangguh dan adaptif di era global.
Rapat Kerja (Raker) Komisariat Wilayah I Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) resmi digelar di Anggun Ballroom Muraya Hotel, Banda Aceh, Senin (20/4/2026)

BANDA ACEH – Rapat Kerja (Raker) Komisariat Wilayah I Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) resmi digelar di Anggun Ballroom Muraya Hotel, Banda Aceh, Senin (20/4/2026). Forum strategis ini menjadi ajang konsolidasi penting bagi pemerintah kota di wilayah Sumatera dalam merespons tantangan pembangunan yang semakin kompleks dan dinamis.

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas selaku Ketua Komwil I Apeksi, dan turut dihadiri Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, jajaran kementerian, serta para wali kota anggota Komwil I Apeksi.

Sebanyak 126 peserta dari 21 kota hadir dalam kegiatan ini bersama delegasi masing-masing, menegaskan posisi Komwil I sebagai komisariat terbesar sekaligus paling strategis dalam struktur Apeksi secara nasional.

Konsolidasi Kota di Tengah Tantangan Global

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, dalam sambutannya menegaskan bahwa Raker Apeksi bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan forum strategis untuk memperkuat arah kebijakan pembangunan kota.

Menurutnya, tema yang diangkat—“Kota Tangguh, Fiskal Kuat, Kolaborasi Erat”—merefleksikan kebutuhan nyata yang dihadapi pemerintah kota saat ini.

“Ini bukan sekadar slogan. Kota-kota hari ini sedang berada dalam fase transisi yang menuntut adaptasi cepat terhadap berbagai tekanan, mulai dari fiskal, pelayanan publik, hingga transformasi digital,” ujar Illiza.

Didampingi Wakil Wali Kota Banda Aceh, Afdhal Khalilullah, ia menegaskan bahwa kolaborasi antar daerah kini menjadi keharusan, bukan lagi pilihan.

Menurutnya, tanpa kerja sama yang kuat, sulit bagi kota untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Belajar dari Tsunami: Ketangguhan Kota Dibangun Bersama

Dalam forum tersebut, Illiza juga mengangkat pengalaman Kota Banda Aceh dalam menghadapi bencana tsunami 2004 sebagai refleksi penting dalam membangun ketangguhan kota.

Peristiwa besar yang menelan lebih dari 170 ribu korban jiwa, termasuk sekitar 60 ribu warga Banda Aceh, menjadi titik balik dalam perencanaan pembangunan kota.

“Dari tragedi itu, kami belajar bahwa membangun kota tangguh tidak bisa dilakukan sendiri. Kolaborasi adalah kunci utama,” tegasnya.

Ia menambahkan, proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-tsunami menunjukkan bahwa kekuatan kolektif, baik dari dalam negeri maupun internasional, mampu mempercepat pemulihan dan membangun kembali kota dengan lebih baik.

Pengalaman tersebut kini menjadi fondasi dalam merancang kebijakan pembangunan yang berorientasi pada ketahanan jangka panjang.

Perempuan Jadi Pilar Ketahanan Sosial

Tidak hanya fokus pada infrastruktur, Pemerintah Kota Banda Aceh juga menempatkan penguatan sosial sebagai bagian penting dalam membangun kota tangguh.

Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah dengan mendorong keterlibatan perempuan melalui program Musyawarah Rencana Aksi Perempuan (Musrena).

Selain itu, inovasi berbasis lingkungan seperti women collecting point turut dikembangkan sebagai bagian dari pengelolaan sampah berbasis prinsip reduce, reuse, recycle.

Melalui program ini, perempuan tidak hanya berperan dalam menjaga lingkungan, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi keluarga dan ketahanan pangan.

“Ketangguhan kota tidak hanya diukur dari fisik, tetapi juga dari kekuatan sosial masyarakatnya,” jelas Illiza.

Perubahan Iklim dan Tekanan Fiskal Jadi Isu Kritis

Dalam Raker tersebut, isu perubahan iklim menjadi salah satu perhatian utama. Ketidakpastian cuaca, peningkatan intensitas bencana, serta dampak lingkungan yang semakin nyata menuntut pemerintah kota untuk lebih adaptif.

Di sisi lain, tekanan fiskal daerah juga menjadi tantangan serius yang dihadapi hampir seluruh kota di Indonesia.

Illiza menyoroti tingginya belanja pegawai di banyak daerah yang telah mendekati bahkan melampaui 30 persen dari APBD.

“Ini menjadi tantangan besar karena membatasi ruang fiskal untuk inovasi dan pembangunan,” ujarnya.

Karena itu, penguatan kapasitas fiskal daerah dinilai sebagai agenda strategis yang harus diperjuangkan bersama melalui forum Apeksi.

Menteri Dalam Negeri RI Muhammad Tito Karnavian yang hadir sebagai keynote speaker
Menteri Dalam Negeri RI Muhammad Tito Karnavian yang hadir sebagai keynote speaker menekankan pentingnya sinergi antar pemerintah kota. FOTO/HUMAS BANDA ACEH

Arahan Mendagri: Kota Harus Adaptif dan Kolaboratif

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Dalam Negeri RI Muhammad Tito Karnavian yang hadir sebagai keynote speaker menekankan pentingnya sinergi antar pemerintah kota.

Ia menegaskan bahwa kota sebagai pusat pertumbuhan ekonomi harus mampu beradaptasi dengan cepat terhadap dinamika global.

“Ketahanan kota tidak hanya dilihat dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan fiskal dan kesiapan menghadapi perubahan global, termasuk krisis iklim,” tegas Tito.

Ia juga mendorong agar pemerintah kota terus memperkuat kolaborasi lintas daerah guna menciptakan solusi yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Momentum Strategis Menuju Kota Masa Depan

Raker Komwil I Apeksi di Banda Aceh menjadi momentum penting bagi para kepala daerah untuk menyamakan persepsi, berbagi pengalaman, serta merumuskan strategi bersama dalam menghadapi masa depan.

Forum ini tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga wadah untuk melahirkan inovasi kebijakan yang mampu menjawab tantangan nyata di lapangan.

Dengan semangat kolaborasi yang kuat, kota-kota di Sumatera diharapkan mampu memperkuat perannya sebagai motor pembangunan nasional.

Di bawah kepemimpinan Illiza Sa’aduddin Djamal bersama Afdhal Khalilullah, Banda Aceh tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga tampil sebagai representasi kota yang terus bergerak menuju ketangguhan, keberlanjutan, dan daya saing global.


Eksplorasi konten lain dari acehpedia.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *