Berita NasionalBreaking News

Ancaman Siber Kian Kompleks, BSSN Dorong Masyarakat Jadi Garda Keamanan Digital

10
×

Ancaman Siber Kian Kompleks, BSSN Dorong Masyarakat Jadi Garda Keamanan Digital

Sebarkan artikel ini
BSSN dorong masyarakat jadi garda keamanan digital di tengah ancaman siber yang kian kompleks. Disinformasi hingga manipulasi informasi jadi tantangan serius di era digital.
Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Berty B.W. Sumakud menjelaskan keamanan siber merupakan upaya adaptif untuk melindungi seluruh lapisan ruang digital, termasuk aset informasi, dari ancaman teknis maupun sosial. (Foto: Putri/InfoPublik)

BANDUNG – Ancaman siber kian kompleks, BSSN dorong masyarakat jadi garda keamanan digital sebagai bagian dari strategi pertahanan semesta di era modern. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, ancaman tidak lagi sebatas peretasan atau malware, tetapi juga merambah ke manipulasi informasi yang dapat memengaruhi stabilitas sosial dan nasional.

Hal tersebut disampaikan Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Berty B.W. Sumakud, saat membuka kegiatan Gaskeun Camp: Kolab Jadi Jawara di Bandung, Kamis (23/4/2026).

Menurut Berty, keamanan siber merupakan upaya adaptif untuk melindungi seluruh lapisan ruang digital, termasuk aset informasi, dari ancaman teknis maupun sosial yang semakin berkembang.

“Ancaman siber tidak hanya berupa serangan teknologi seperti peretasan, malware, atau kebocoran data, tetapi juga manipulasi informasi yang memengaruhi opini publik,” ujarnya.

Ia menambahkan, fenomena seperti disinformasi, misinformasi, hingga Foreign Information Manipulation and Interference (FIMI) kini menjadi “senjata baru” dalam konflik modern. Dampaknya tidak hanya merusak kepercayaan publik, tetapi juga berpotensi memecah belah masyarakat.

Dalam konteks tersebut, Berty menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam menjaga ruang digital agar tetap sehat dan aman. Ia mengajak publik untuk lebih kritis dalam menerima informasi, termasuk melakukan verifikasi sebelum menyebarkannya serta berkontribusi sebagai produsen konten positif.

Sementara itu, Direktur Informasi Publik Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Nursodik Gunarjo, menegaskan bahwa pertahanan negara saat ini tidak lagi terbatas pada kekuatan militer semata.

Menurutnya, peran strategis justru berada di tangan masyarakat, khususnya generasi muda seperti mahasiswa, konten kreator, dan komunitas digital.

“Ancaman tidak selalu datang dalam bentuk fisik, tetapi bisa berupa tautan, meme, atau komentar yang dirancang untuk memecah belah kita. Dalam konteks ini, aktivitas digital masyarakat menjadi bagian penting dari bela negara,” ujarnya.

Ia bahkan mengingatkan bahwa perilaku di ruang digital memiliki dampak besar terhadap ketahanan nasional.

“Jempol kalian adalah senjata, dan unggahan kalian adalah benteng terakhir bangsa di era digital,” tegasnya.

Kegiatan Gaskeun Camp ini juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem keamanan siber nasional. Pemerintah mendorong keterlibatan aktif generasi muda sebagai agen literasi digital untuk menciptakan ruang informasi yang sehat dan produktif.

Sejumlah narasumber turut hadir dalam kegiatan ini, di antaranya perwakilan komunitas kreatif seperti Pandawara Group serta tokoh penggerak pemberdayaan anak muda.

Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung, seperti Universitas Pasundan, Universitas Padjadjaran, Universitas Islam Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia, UIN Sunan Gunung Jati, hingga Universitas Komputer Indonesia.

Melalui forum ini, diharapkan lahir kesadaran kolektif bahwa keamanan siber bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi tugas bersama seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kedaulatan digital Indonesia.


Eksplorasi konten lain dari acehpedia.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *