AcehBerita

Tgk. T. Raja Ubit: Menemukan Cahaya di Tengah Kebisingan Dunia Melalui Kekuatan Diam dan Tafakkur

22
×

Tgk. T. Raja Ubit: Menemukan Cahaya di Tengah Kebisingan Dunia Melalui Kekuatan Diam dan Tafakkur

Sebarkan artikel ini
Tgk. T. Raja Ubit menyampakina ceramah pada acara Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama WAG Chank Panah di RA Kupi, Rabu (4/3/2026). FOTO/SAIFUL EFFENDI

BANDA ACEH – Di tengah derasnya arus informasi digital dan dinamika sosial yang kian bising, kemampuan untuk menjaga kejernihan hati menjadi aset spiritual yang tak ternilai. Hal inilah yang menjadi pesan sentral dalam ceramah menyentuh dari Tgk. T. Raja Ubit pada acara Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama WAG Chank Panah di RA Kupi, Rabu (4/3/2026).

Dalam tausiah bertajuk “Menemukan Cahaya di Tengah Kebisingan Dunia”, Tgk. T. Raja Ubit menyoroti fenomena “kebisingan” modern yang bersumber dari gawai hingga ambisi duniawi yang kerap melelahkan jiwa. Beliau menekankan bahwa diam (silent) bukanlah kekosongan, melainkan metode tafakkur untuk mendengarkan petunjuk Allah. Mengutip hadis Rasulullah SAW tentang keutamaan berkata baik atau diam, beliau mengajak jamaah untuk menjadikan diam sebagai filter diri dan kendali atas reaksi emosional di ruang publik maupun media sosial.

“Dunia tidak akan pernah berhenti berisik, maka satu-satunya tempat tenang yang tersisa adalah di dalam hati yang terhubung dengan Allah,” ujar Tgk. T. Raja Ubit. Beliau memberikan teladan dari Rasulullah SAW di Gua Hira serta Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menggunakan keheningan malam untuk mengevaluasi tanggung jawab kepemimpinannya. Pesan ini menjadi pengingat tajam bagi para aparatur dan akademisi bahwa produktivitas yang berkah selalu berawal dari koneksi batin yang kuat dengan Sang Pencipta.

Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama WAG Chank Panah di RA Kupi, Rabu (4/3/2026).FOTO/SAIFUL EFFENDI

Apresiasi layak diberikan atas pemilihan tema yang sangat relevan dengan tantangan zaman saat ini. Materi ini tidak hanya menyentuh sisi religius, tetapi juga memberikan solusi praktis bagi civitas akademika dalam mengelola stres dan konflik komunikasi, seperti anjuran melakukan “puasa gadget” sejenak untuk refleksi diri. Inisiatif ceramah yang edukatif ini membuktikan bahwa pertemuan informal pun dapat menjadi ruang transformasi mental yang positif.

Harapannya, pesan-pesan tentang kekuatan tafakkur ini dapat diimplementasikan dalam lingkungan kerja di UIN Ar-Raniry. Dengan lisan yang terjaga dan pikiran yang jernih, diharapkan muncul harmoni kerja yang lebih baik, minimnya disinformasi di grup percakapan, serta lahirnya kebijakan-kebijakan yang penuh kearifan demi kemajuan institusi pendidikan Islam ini ke depan.