Berita Nasional

BMKG Pastikan Gempa Sulawesi Tengah Tidak Berpotensi Tsunami, Warga Diminta Tetap Waspada

14
×

BMKG Pastikan Gempa Sulawesi Tengah Tidak Berpotensi Tsunami, Warga Diminta Tetap Waspada

Sebarkan artikel ini
Gempa sulawesi Tengah
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama bersama jajaran BMKG saat menyampaikan keterangan pers. Selasa (16/6/2026). Foto: BMKG)

BMKG memastikan gempa Sulawesi Tengah M6,7 di Parigi Moutong, tidak berpotensi tsunami. Hingga siang hari tercatat 20 gempa susulan dengan magnitudo terbesar M5,2.

ACEHPEDIA.COM | Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada Selasa (16/6/2026), tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Gempa yang terjadi pada pukul 10.27.44 WIB tersebut merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas Sesar Sausu dengan mekanisme pergerakan turun atau normal fault. Meski tidak memicu tsunami, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan yang masih terjadi di wilayah terdampak.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menjelaskan bahwa pusat gempa berada pada koordinat 1,03 derajat Lintang Selatan dan 120,24 derajat Bujur Timur dengan kedalaman 16 kilometer.

“Berdasarkan hasil analisis dan pemodelan yang dilakukan BMKG, gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” ujar Nelly dalam keterangannya di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta.

Gempa Sulawesi Tengah Berasal dari Aktivitas Sesar Sausu

BMKG mengungkapkan bahwa gempa Sulawesi Tengah dipicu oleh aktivitas tektonik pada Sesar Sausu yang berada di wilayah tersebut.

Karakteristik gempa menunjukkan mekanisme sesar turun (normal fault) yang umum terjadi akibat pergerakan kerak bumi pada zona patahan aktif.

Lokasi episenter berada sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu, tepatnya di wilayah daratan Kabupaten Parigi Moutong.

Meski pusat gempa berada di darat, guncangan dirasakan cukup luas hingga ke sejumlah kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah serta sebagian wilayah Sulawesi Barat.

Guncangan Kuat Dirasakan di Sigi dan Parigi Moutong

Hasil analisis intensitas BMKG menunjukkan wilayah Palolo di Kabupaten Sigi mengalami guncangan paling kuat dengan skala VII Modified Mercalli Intensity (MMI).

Pada tingkat intensitas tersebut, masyarakat merasakan getaran sangat kuat dan berpotensi menyebabkan kerusakan pada bangunan yang tidak dirancang tahan gempa.

Sementara itu, wilayah Torue dan Parigi Selatan mengalami intensitas VI hingga VII MMI.

Getaran dengan skala V hingga VI MMI juga dirasakan di wilayah Sigi Biromaru dan Kota Palu.

Adapun wilayah Kota Poso, Donggala, serta Pasangkayu merasakan guncangan pada skala IV hingga V MMI yang masih dapat menyebabkan kerusakan ringan pada bangunan tertentu.

BMKG terus melakukan pemantauan pascagempa dan mencatat aktivitas gempa susulan yang masih berlangsung hingga beberapa jam setelah gempa utama terjadi.

“Hingga pukul 12.00 WIB, hasil monitoring BMKG telah terjadi 20 aktivitas gempa bumi susulan atau aftershock dengan magnitudo terbesar mencapai M5,2,” kata Nelly.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa gempa susulan merupakan fenomena yang lazim terjadi setelah gempa utama.

Menurutnya, frekuensi gempa susulan diperkirakan akan terus menurun seiring waktu dengan kekuatan yang semakin melemah.

BMKG akan terus memperbarui informasi perkembangan aktivitas seismik kepada masyarakat dan para pemangku kepentingan.

BMKG Pastikan Kondisi Laut Tetap Aman

Selain melakukan pemodelan tsunami, BMKG juga memantau kondisi muka air laut melalui sejumlah stasiun pasang surut di sekitar wilayah pusat gempa.

Hasil pengamatan menunjukkan kondisi laut tetap stabil dan tidak ditemukan indikasi tsunami.

Stasiun pemantau di Parigi dan Poso tidak mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan.

Sementara itu, sensor di Pelabuhan Pantoloan sempat mendeteksi kenaikan muka air laut setinggi 7,5 sentimeter.

Namun BMKG menegaskan bahwa fluktuasi tersebut masih berada dalam batas normal dan tidak membahayakan masyarakat.

“Sementara sensor di Pelabuhan Pantoloan memang mencatat kenaikan muka air laut setinggi 7,5 sentimeter, namun fluktuasi kecil ini sama sekali tidak berbahaya bagi keselamatan masyarakat,” jelas Wijayanto.

Untuk memastikan kondisi di lapangan, BMKG telah mengirim tim teknis ke sejumlah wilayah terdampak gempa di Sulawesi Tengah.

Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, mengatakan tim tersebut bertugas melakukan survei lapangan serta mengevaluasi dampak guncangan terhadap bangunan dan infrastruktur.

Hasil survei akan menjadi bahan evaluasi dalam penyempurnaan data dampak gempa sekaligus memperkuat sistem mitigasi bencana di masa mendatang.

Warga Diminta Waspada dan Hindari Hoaks

BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang namun tidak lengah menghadapi potensi gempa susulan.

Warga diminta menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan atau retak akibat gempa karena berpotensi membahayakan keselamatan.

Selain itu, masyarakat diingatkan agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.

BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi resmi terkait aktivitas gempa bumi hanya disampaikan melalui kanal komunikasi resmi lembaga tersebut.

“Masyarakat diharapkan selalu memastikan kebenaran informasi melalui media sosial resmi @infoBMKG, situs resmi BMKG, maupun aplikasi InfoBMKG,” pungkas Nelly.

Dengan terus meningkatnya aktivitas gempa susulan, kesiapsiagaan masyarakat dan akses terhadap informasi yang akurat menjadi faktor penting dalam meminimalkan risiko bencana di wilayah Sulawesi Tengah.


Kunjungi Juga Media Sosial Kami : Facebook | Instagram