Ekonomi

Rehabilitasi Lahan Sawah Pascabencana Dikebut, Pemerintah Aceh Gelontorkan Rp380 Miliar

9
×

Rehabilitasi Lahan Sawah Pascabencana Dikebut, Pemerintah Aceh Gelontorkan Rp380 Miliar

Sebarkan artikel ini
Pemerintah Aceh percepat rehabilitasi lahan sawah pascabencana dengan anggaran Rp380 miliar untuk optimasi lahan, irigasi, dan infrastruktur pertanian.
Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir

ACEHPEDIA.COM | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh terus mempercepat program rehabilitasi lahan sawah pascabencana sebagai langkah strategis dalam menjaga ketahanan pangan dan memulihkan ekonomi masyarakat. Upaya ini menjadi prioritas utama menyusul dampak bencana yang merusak ribuan hektare lahan pertanian di berbagai wilayah.

Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, menegaskan bahwa pemerintah daerah kini fokus mengejar seluruh tahapan program agar lahan pertanian yang terdampak dapat segera kembali produktif dan dimanfaatkan oleh petani.

Dalam keterangannya, M. Nasir menyampaikan bahwa total anggaran untuk program rehabilitasi lahan sawah pascabencana di Aceh mencapai Rp380 miliar lebih. Anggaran tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan utama, mulai dari optimasi lahan hingga pembangunan infrastruktur pendukung.

“Pemerintah Aceh saat ini fokus mempercepat seluruh tahapan kegiatan, mulai dari perencanaan hingga konstruksi dan pengolahan lahan,” ujarnya.

Langkah percepatan ini dinilai penting agar sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Aceh dapat segera pulih dari dampak bencana.

Optimasi Lahan Sawah Capai Puluhan Ribu Hektare

Salah satu program utama dalam rehabilitasi lahan sawah pascabencana adalah kegiatan optimasi lahan (oplah) untuk sawah dengan tingkat kerusakan ringan.

Untuk program ini, Pemerintah Aceh mengalokasikan anggaran sebesar Rp155,6 miliar yang mencakup 16 kabupaten/kota dengan total luas mencapai 27.071 hektare.

Pada tahap perencanaan yang melibatkan perguruan tinggi seperti USK, UNIMAL, dan UNSAM, progres telah mencapai sekitar 12.205 hektare atau 45 persen dari target.

Setelah tahap perencanaan selesai, kegiatan akan dilanjutkan dengan konstruksi oplah senilai Rp124,5 miliar serta pengolahan lahan sebesar Rp24,3 miliar yang dikelola oleh pemerintah kabupaten/kota.

Selain optimasi lahan, program rehabilitasi lahan sawah pascabencana juga mencakup perbaikan lahan dengan tingkat kerusakan sedang.

Untuk program ini, dialokasikan anggaran sebesar Rp65,2 miliar yang mencakup lima kabupaten dengan luas sekitar 4.393 hektare.

Saat ini, progres konstruksi rehabilitasi telah mencapai sekitar 3.981 hektare. Kegiatan ini dilaksanakan melalui kerja sama antara kelompok tani dan TNI, yang menjadi bagian penting dalam percepatan pekerjaan di lapangan.

Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pemulihan sektor pertanian membutuhkan keterlibatan berbagai pihak secara aktif.

Pembangunan Irigasi Jadi Kunci Pemulihan Pertanian

Dalam mendukung keberhasilan rehabilitasi lahan sawah pascabencana, Pemerintah Aceh juga membangun berbagai infrastruktur irigasi.

Untuk irigasi perpompaan, direncanakan pembangunan sebanyak 641 unit di 16 kabupaten/kota dengan anggaran Rp98 miliar. Namun, saat ini baru sekitar 70 unit atau 3,49 persen yang sedang dalam tahap pengerjaan.

Sementara itu, pembangunan irigasi perpipaan sebanyak 149 unit di 13 kabupaten/kota dengan anggaran Rp14 miliar telah mencapai progres sekitar 24 persen.

Selain itu, pembangunan bangunan konservasi sebanyak 45 unit dengan anggaran Rp5,4 miliar masih dalam tahap persiapan.

Program rehabilitasi lahan sawah pascabencana juga mencakup pembangunan jaringan irigasi tersier dan Jalan Usaha Tani (JUT) sebagai penunjang aktivitas pertanian.

Dari total 300 unit jaringan irigasi tersier yang direncanakan dengan anggaran Rp30 miliar, saat ini baru sekitar 8 persen yang dalam tahap pengerjaan.

Sementara itu, pembangunan 106 unit Jalan Usaha Tani dengan anggaran Rp11,6 miliar juga masih berada pada tahap awal dengan progres sekitar 8 persen.

Meski masih dalam tahap awal, proyek ini diharapkan dapat memperlancar distribusi hasil pertanian dan meningkatkan efisiensi kerja petani.

M. Nasir menegaskan bahwa keberhasilan rehabilitasi lahan sawah pascabencana sangat bergantung pada sinergi antara berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, TNI, hingga masyarakat.

Pemerintah Aceh terus melakukan koordinasi intensif untuk memastikan seluruh program berjalan sesuai target dan dapat diselesaikan tepat waktu.

“Kami optimis, dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, akademisi, TNI, dan masyarakat, seluruh program ini dapat diselesaikan tepat waktu,” tegasnya.

Harapan Tingkatkan Produktivitas dan Kesejahteraan Petani

Melalui percepatan rehabilitasi lahan sawah pascabencana, Pemerintah Aceh berharap tidak hanya memulihkan kondisi lahan, tetapi juga meningkatkan produktivitas pertanian secara keseluruhan.

Program ini diharapkan mampu memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petani di wilayah terdampak.

Dengan lahan yang kembali produktif dan didukung infrastruktur yang memadai, sektor pertanian di Aceh diyakini akan kembali menjadi penggerak utama ekonomi daerah.