Tradisi memasak kue Apam Aceh untuk menyambut Bulan Ramadhan
Sebarkan artikel ini
Warga memasak kue tradisional Apam Aceh di Ulee Kareng, Banda Aceh, Indonesia, pada Kamis. Tradisi toet apam (memasak kue apam) yang dilaksanakan secara bersama-sama itu dilakukan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan. Kuliner yang berjenis kue ini memiliki cita rasa yang manis dan juga gurih karena ada perpaduan antara tepung beras, santan kelapa, dan juga buah nangka. Apam aceh adalah salah satu kuliner yang ada didaerah Aceh sejak zaman dulu dan tetap lestari hingga kini. FOTO/MUHAMMAD IQBAL
Banda Aceh – Warga di SPS Ceria Ceurih Gampong Ceurih Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, Kamis (05/02), tampak kompak memasak kue tradisional Apam Aceh dalam tradisi yang dikenal dengan sebutan toet apam. Kegiatan ini rutin dilakukan menjelang bulan suci Ramadhan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus upaya menjaga tradisi warisan leluhur. Sejak pagi, aroma manis dan gurih dari adonan apam yang dimasak bersama-sama sudah tercium di lingkungan warga.
Apam Aceh dikenal sebagai kue tradisional dengan cita rasa khas, hasil perpaduan tepung beras, santan kelapa, gula, dan potongan buah nangka. Teksturnya lembut, rasanya manis dengan sentuhan gurih, menjadikannya salah satu kuliner favorit masyarakat Aceh, terutama saat momen-momen keagamaan.
Secara historis, Kue Apam Aceh telah ada sejak zaman Kesultanan Aceh. Dahulu, apam kerap disajikan dalam acara adat, kenduri, hingga perayaan keagamaan. Tradisi toet apam sendiri melambangkan kebersamaan, doa, dan harapan agar ibadah Ramadhan berjalan lancar serta membawa keberkahan.
Hidangan kue Apam Aceh untuk jamuan tamu di Ulee Kareng, Banda Aceh, Indonesia, pada Kamis. Kuliner yang berjenis kue ini memiliki cita rasa yang manis dan juga gurih karena ada perpaduan antara tepung beras, santan kelapa, dan juga buah nangka. Apam aceh adalah salah satu kuliner yang ada didaerah Aceh sejak zaman dulu dan tetap lestari hingga kini. FOTO/MUHAMMAD IQBAL
Seorang warga menyiapkan hidangan kue Apam Aceh untuk jamuan tamu di Ulee Kareng, Banda Aceh, Indonesia, pada Kamis. Kuliner yang berjenis kue ini memiliki cita rasa yang manis dan juga gurih karena ada perpaduan antara tepung beras, santan kelapa, dan juga buah nangka. Apam aceh adalah salah satu kuliner yang ada didaerah Aceh sejak zaman dulu dan tetap lestari hingga kini.FOTO/MUHAMMAD IQBAL
Hidangan kue Apam Aceh untuk jamuan tamu di Ulee Kareng, Banda Aceh, Indonesia, pada Kamis. Kuliner yang berjenis kue ini memiliki cita rasa yang manis dan juga gurih karena ada perpaduan antara tepung beras, santan kelapa, dan juga buah nangka. Apam aceh adalah salah satu kuliner yang ada didaerah Aceh sejak zaman dulu dan tetap lestari hingga kini. FOTO/MUHAMMAD IQBAL
Warga menyantap hidangan kue Apam Aceh di Ulee Kareng, Banda Aceh, Indonesia, pada Kamis. Kuliner yang berjenis kue ini memiliki cita rasa yang manis dan juga gurih karena ada perpaduan antara tepung beras, santan kelapa, dan juga buah nangka. Apam aceh adalah salah satu kuliner yang ada didaerah Aceh sejak zaman dulu dan tetap lestari hingga kini.FOTO/MUHAMMAD IQBAL
Proses pembuatan Apam Aceh terbilang sederhana, namun membutuhkan ketelatenan. Tepung beras dicampur dengan santan, gula, dan ragi, lalu difermentasi selama beberapa jam. Setelah itu, adonan dituang ke dalam cetakan khusus dan dimasak di atas bara api. Potongan buah nangka ditambahkan untuk memperkaya aroma dan rasa.
Meski zaman terus berubah, tradisi memasak Apam Aceh tetap lestari hingga kini, menjadi bukti kuatnya ikatan budaya dan nilai kebersamaan dalam masyarakat Aceh.