ACEHPEDIA.COM | Masjid Raya Baiturrahman bukan sekadar tempat ibadah bagi masyarakat Aceh. Masjid megah yang berdiri kokoh di jantung Kota Banda Aceh ini telah menjadi simbol sejarah, perlawanan, peradaban Islam, hingga keteguhan rakyat Aceh menghadapi berbagai ujian zaman.
Keindahan arsitekturnya yang memadukan gaya Mughal, Timur Tengah, dan sentuhan Eropa menjadikan Masjid Raya Baiturrahman sebagai salah satu ikon wisata religi paling terkenal di Indonesia. Selain menjadi pusat kegiatan keagamaan, masjid ini juga menyimpan perjalanan panjang sejarah Aceh sejak era Kesultanan hingga masa modern.
Awal Berdirinya Masjid Raya Baiturrahman
Sejarah Masjid Raya Baiturrahman diperkirakan bermula pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda sekitar tahun 1612 Masehi. Pada masa kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam, masjid ini dibangun sebagai pusat ibadah sekaligus simbol kebesaran kerajaan Islam di kawasan Asia Tenggara.
Kala itu, Aceh dikenal sebagai pusat perdagangan dan penyebaran Islam yang sangat berpengaruh. Banyak ulama dari Timur Tengah, India, hingga Asia datang ke Aceh untuk berdakwah dan menuntut ilmu.
Masjid Baiturrahman menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan Islam, musyawarah kerajaan, hingga tempat berkumpulnya para ulama dan cendekiawan Muslim.
Nama “Baiturrahman” sendiri berarti “Rumah Sang Maha Pengasih,” yang menggambarkan fungsi masjid sebagai tempat mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus pusat persatuan umat.
Pernah Dibakar Saat Perang Aceh
Salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Masjid Raya Baiturrahman terjadi saat agresi militer Belanda dalam Perang Aceh pada tahun 1873.
Dalam serangan tersebut, pasukan kolonial Belanda membakar masjid hingga rata dengan tanah. Peristiwa itu memicu kemarahan besar rakyat Aceh dan memperkuat semangat perlawanan terhadap penjajah.
Pembakaran Masjid Raya Baiturrahman menjadi luka mendalam bagi masyarakat Aceh karena masjid tersebut dianggap simbol agama, kehormatan, dan identitas rakyat Aceh.
Setelah menyadari kemarahan masyarakat semakin besar, pemerintah kolonial Belanda kemudian membangun kembali masjid tersebut pada tahun 1879 sebagai upaya meredakan perlawanan rakyat Aceh.
Meski awalnya sempat ditolak karena dianggap simbol penjajahan, lambat laun masyarakat Aceh menerima keberadaan masjid tersebut karena tetap menjadi rumah ibadah umat Islam.
Arsitektur Megah yang Menjadi Ikon Aceh
Masjid Raya Baiturrahman memiliki arsitektur yang sangat khas dan berbeda dibandingkan masjid-masjid lain di Indonesia.
Bangunan utama masjid didominasi warna putih dengan kubah hitam besar yang menjadi ciri khasnya. Gaya arsitekturnya memadukan unsur Mughal dari India, sentuhan Timur Tengah, serta pengaruh Eropa yang terlihat dari detail pintu, jendela, dan ornamen bangunan.
Pada awal pembangunan kembali oleh Belanda, masjid ini hanya memiliki satu kubah utama. Namun seiring perkembangan dan renovasi, jumlah kubah bertambah menjadi tujuh.
Keindahan Masjid Raya Baiturrahman semakin lengkap dengan keberadaan kolam, taman, payung elektrik raksasa, dan halaman luas yang sering menjadi pusat aktivitas masyarakat maupun wisatawan.
Saat malam hari, pencahayaan masjid membuat suasana semakin indah dan megah, menjadikannya salah satu destinasi favorit wisata religi di Aceh.
Selamat dari Tsunami Aceh 2004
Masjid Raya Baiturrahman kembali menjadi simbol keteguhan saat bencana tsunami dahsyat melanda Aceh pada 26 Desember 2004.
Ketika gelombang tsunami menghancurkan sebagian besar wilayah Banda Aceh dan menewaskan ratusan ribu orang, Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri kokoh di tengah kehancuran.
Peristiwa tersebut membuat masjid ini dikenal dunia internasional sebagai simbol harapan dan keselamatan.
Saat tsunami terjadi, ribuan warga berlindung di area masjid dan sebagian berhasil selamat. Hingga kini, kisah ketahanan Masjid Raya Baiturrahman menjadi bagian penting dalam sejarah bencana tsunami Aceh.
Pasca tsunami, masjid ini semakin ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin melihat langsung simbol keteguhan masyarakat Aceh tersebut.
Menjadi Pusat Wisata Religi dan Pendidikan Islam
Kini, Masjid Raya Baiturrahman tidak hanya menjadi tempat ibadah utama masyarakat Banda Aceh, tetapi juga berkembang sebagai pusat wisata religi dan pendidikan Islam.
Berbagai kegiatan keagamaan rutin digelar di masjid ini, mulai dari pengajian, kajian Islam, hingga kegiatan sosial masyarakat.
Wisatawan yang datang ke Banda Aceh hampir selalu menjadikan Masjid Raya Baiturrahman sebagai destinasi utama karena keindahan arsitektur dan nilai sejarahnya yang sangat kuat.
Selain itu, masjid ini juga sering menjadi lokasi berbagai agenda keagamaan besar di Aceh, termasuk peringatan hari besar Islam dan kegiatan dakwah internasional.
Simbol Keteguhan dan Identitas Aceh
Bagi masyarakat Aceh, Masjid Raya Baiturrahman bukan sekadar bangunan fisik, tetapi simbol identitas, keteguhan iman, dan semangat perjuangan.
Masjid ini telah melewati berbagai fase sejarah, mulai dari kejayaan Kesultanan Aceh, masa penjajahan Belanda, konflik, hingga bencana tsunami.
Keberadaannya menjadi pengingat bahwa Aceh memiliki sejarah panjang sebagai daerah yang kuat mempertahankan nilai agama, budaya, dan persatuan masyarakatnya.
Hingga saat ini, Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri megah dan menjadi kebanggaan rakyat Aceh sekaligus salah satu ikon Islam paling terkenal di Indonesia.
