Berita AcehBerita Foto

Nan Wuli (Lamuri), Jejak Harmoni Budaya Aceh–Tiongkok dalam Panggung Seni

35
Penari menampilkan perpaduan tarian asal China dengan tarian tradisional dan kreasi baru Aceh pada pagelaran akulturasi budaya Aceh-China di Banda Aceh, Aceh, Senin (13/4/2026). FOTO/MUHAMMAD

BANDA ACEH — Pertunjukan seni bertajuk Nan Wuli (Lamuri) digelar di Banda Aceh, Senin (13/4/2026), sebagai upaya menghidupkan kembali harmoni budaya antara masyarakat Aceh dan Tionghoa yang telah terjalin sejak berabad-abad lalu.

Pagelaran ini menampilkan perpaduan tari, musik, dan puisi yang menggambarkan eratnya hubungan historis antara Aceh—yang dahulu dikenal sebagai Lamuri—dengan bangsa Tionghoa.

Pertunjukan karya Rudi Asman, S.Sn ini menghadirkan kolaborasi unik antara tarian tradisional Aceh dengan unsur tari khas Tiongkok. Para penari tampil memukau dengan gerakan yang merepresentasikan akulturasi budaya yang telah berlangsung sejak masa kerajaan Lamuri, sekitar abad ke-8 hingga ke-15 Masehi.

Konsep Nan Wuli diangkat dari sejarah panjang hubungan diplomatik, perdagangan, dan persaudaraan antara Aceh dan Tiongkok. Salah satu simbol kuat hubungan tersebut adalah keberadaan Lonceng Cakradonya, yang menjadi penanda eratnya interaksi kedua peradaban di masa lalu.

Selain itu, kawasan Peunayong di Banda Aceh juga menjadi saksi sejarah, yang sejak masa Sultan Iskandar Muda dikenal sebagai permukiman khusus masyarakat Tionghoa.

“Nan Wuli merupakan gambaran luasnya keterhubungan budaya Aceh dan Tionghoa. Kami ingin menghadirkan kesadaran bahwa harmoni ini telah lama ada dan perlu terus dirawat,” ujar Rudi Asman.

Ia menambahkan, pertunjukan ini tidak hanya menjadi karya seni, tetapi juga media edukasi yang mengajak masyarakat memahami pentingnya toleransi dan keberagaman melalui pendekatan estetika.

“Nan Wuli” karya Rudi Asman, S.Sn ini menghadirkan kolaborasi unik antara tarian tradisional Aceh dengan unsur tari khas Tiongkok. FOTO/MUHAMMAD

Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Ketua Yayasan Hakka Aceh Harianto atau Chong Lie, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh Piet Rusdi, Ketua Majelis Seniman Aceh Chairiyan Ramli, serta Kepala UPTD Taman Seni dan Budaya Aceh Cut Rita Mutia.

Ketua Yayasan Hakka Aceh, Harianto, menyambut positif kegiatan tersebut sebagai ruang mempererat hubungan antarbudaya yang telah lama terjalin di Aceh.

Pertunjukan Nan Wuli dinilai menjadi langkah penting dalam mengangkat kembali potensi seni berbasis sejarah sebagai sarana memperkuat keterkaitan budaya di tengah masyarakat modern.

Di tengah keberagaman yang telah lama hidup di Aceh, kegiatan seperti ini diharapkan mampu membuka ruang dialog budaya yang lebih luas sekaligus memperkuat keharmonisan sosial melalui seni pertunjukan.


Eksplorasi konten lain dari acehpedia.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Exit mobile version