ACEHPEDIA.COM | Tidak semua kesuksesan lahir dari kondisi yang serba berkecukupan. Bagi Abdullah Rasyiid Hariyono, keterbatasan justru menjadi bahan bakar untuk terus bergerak maju. Di tengah tekanan ekonomi keluarga dan tanggung jawab sebagai anak sulung, pemuda asal Sidoarjo ini berhasil menorehkan prestasi yang menginspirasi banyak orang.
Lulusan Program Studi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) tersebut berhasil menyelesaikan pendidikan sarjananya hanya dalam waktu 3,5 tahun dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,57. Tak hanya unggul secara akademik, ia juga aktif dalam penelitian, mengantongi sertifikasi profesi nasional, serta sukses membangun usaha digital printing yang kini menjadi sumber penghasilan sekaligus harapan baru bagi keluarganya.
Perjalanan hidup Abdullah Rasyiid menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi penghalang untuk meraih cita-cita. Dengan disiplin, kerja keras, dan keberanian mengambil peluang, ia mampu mengubah tantangan menjadi jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Tumbuh di Tengah Keterbatasan Ekonomi
Perjalanan Abdullah Rasyiid menuju bangku kuliah tidak dimulai dari kondisi yang ideal. Saat memasuki masa transisi setelah lulus sekolah menengah, keluarganya tengah menghadapi persoalan ekonomi yang cukup berat.
Sebagai anak pertama dari empat bersaudara, ia menyadari bahwa dirinya memiliki tanggung jawab lebih besar dibandingkan adik-adiknya. Situasi keluarga yang berubah membuatnya harus ikut membantu sang ibu memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus memastikan pendidikan saudara-saudaranya tetap berlanjut.
Alih-alih mengeluh, Abdullah Rasyiid memilih untuk bekerja.
Sebelum berstatus mahasiswa, ia sempat bekerja sebagai tenaga produksi di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan tas dan produk perlengkapan kecantikan. Kesempatan tersebut dimanfaatkannya untuk membantu perekonomian keluarga sembari mempersiapkan langkah berikutnya dalam dunia pendidikan.
Pada masa pandemi, sistem pembelajaran yang masih banyak dilakukan secara daring memberinya kesempatan untuk tetap bekerja sambil mencari peluang melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
Gagal Masuk Kuliah Bukan Akhir Segalanya
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Abdullah Rasyiid tidak langsung memperoleh kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi. Namun kegagalan awal tersebut tidak membuatnya menyerah.
Di tengah aktivitas bekerja, ia terus mencari berbagai informasi mengenai peluang beasiswa yang dapat membantunya melanjutkan pendidikan.
Usahanya akhirnya membuahkan hasil ketika ia diterima sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya sekaligus memperoleh bantuan pendidikan melalui program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K).
Bagi Rasyiid, momen tersebut menjadi titik balik yang mengubah jalan hidupnya.
Beasiswa yang diterimanya bukan hanya memberikan akses terhadap pendidikan tinggi, tetapi juga menghadirkan keyakinan bahwa setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, terlepas dari latar belakang ekonomi yang dimiliki.
Uang Beasiswa Dijadikan Modal Usaha
Banyak mahasiswa menggunakan uang saku beasiswa untuk kebutuhan sehari-hari. Namun Abdullah Rasyiid memilih langkah berbeda.
Ia memandang bantuan yang diterimanya sebagai peluang untuk membangun kemandirian ekonomi jangka panjang.
Secara bertahap, ia menyisihkan sebagian dana yang diperoleh untuk membeli berbagai peralatan usaha. Investasi pertamanya adalah sebuah mesin pemotong stiker bekas yang dibeli dengan harga sekitar Rp4 juta.
Keputusan tersebut menjadi awal lahirnya usaha digital printing yang kemudian berkembang selama masa kuliah.
Berbekal pengalaman bekerja sebelumnya di bidang percetakan, ia memahami kebutuhan pasar terhadap layanan desain kreatif, cetak promosi, hingga berbagai kebutuhan branding usaha.
Dari usaha kecil yang dikelola sendiri, bisnis tersebut perlahan berkembang dan mulai melayani berbagai pelanggan, termasuk pelaku usaha dan perusahaan.
Keuntungan yang diperoleh terus diputar untuk menambah peralatan dan meningkatkan kapasitas produksi.
Menjalankan Bisnis Sambil Menjaga Prestasi Akademik
Meski memiliki kesibukan sebagai pelaku usaha, Abdullah Rasyiid tidak mengabaikan tanggung jawab akademiknya.
Ia tetap fokus menyelesaikan perkuliahan dengan hasil yang memuaskan. Kemampuan mengatur waktu menjadi salah satu faktor utama yang membantunya menjalani berbagai aktivitas secara bersamaan.
Selama menjadi mahasiswa, ia dikenal aktif mengikuti berbagai kegiatan akademik dan pengembangan kompetensi.
Salah satu pencapaian pentingnya adalah keberhasilan memperoleh sertifikasi profesi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), yang menjadi nilai tambah dalam dunia kerja dan industri.
Selain itu, ia juga dipercaya menjadi asisten peneliti dalam sejumlah proyek yang melibatkan pengembangan teknologi terapan.
Pengalaman tersebut memperluas wawasannya sekaligus memperkuat kemampuan teknis yang dimilikinya sebagai mahasiswa teknik elektro.
Terlibat dalam Inovasi Teknologi untuk Perajin Batik
Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Rasyiid selama kuliah adalah keterlibatannya dalam proyek pengembangan teknologi untuk mendukung produktivitas pelaku usaha batik.
Abdullah Rasyiid menjadi bagian dari tim yang mengembangkan Smart Canting with CNC Control, sebuah inovasi yang dirancang untuk membantu proses produksi batik agar lebih efisien dan presisi.
Teknologi tersebut diterapkan pada salah satu usaha mikro batik di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Pengalaman terjun langsung ke lapangan membuatnya memahami bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Dari sinilah muncul ketertarikannya untuk mengembangkan penelitian yang berkaitan dengan sistem kendali otomatis.
Skripsi yang Berangkat dari Pengalaman Lapangan
Pengalaman dalam proyek penelitian kemudian menginspirasi topik tugas akhirnya.
Rasyiid mengembangkan penelitian mengenai sistem pengendalian suhu pada canting elektrik menggunakan pendekatan logika fuzzy.
Penelitian tersebut bertujuan menjaga kestabilan suhu malam atau lilin batik secara otomatis sehingga kualitas produksi dapat lebih terjaga.
Melalui penelitian itu, ia belajar bagaimana teori yang dipelajari di bangku kuliah dapat diterapkan secara nyata untuk membantu meningkatkan produktivitas sektor usaha masyarakat.
Menurutnya, pengalaman penelitian memberikan banyak pelajaran berharga tentang pentingnya berpikir kritis dan mengambil keputusan berdasarkan data.
Lulus Lebih Cepat dengan IPK Membanggakan
Di tengah berbagai aktivitas yang dijalaninya, Rasyiid tetap mampu menjaga performa akademik hingga akhir masa studi.
Dengan menerapkan prinsip skala prioritas, ia memastikan bahwa pendidikan tetap menjadi fokus utama.
Strategi tersebut terbukti berhasil. Pada semester ketujuh, ia telah menyelesaikan tahapan seminar skripsi dan semakin dekat dengan target kelulusan yang telah direncanakan sejak awal.
Tidak lama kemudian, ia resmi menyandang gelar Sarjana Teknik setelah menuntaskan pendidikan dalam waktu 3,5 tahun dengan IPK 3,57.
Pencapaian tersebut menjadi hadiah manis atas perjuangan panjang yang telah dilalui selama bertahun-tahun.
Membahagiakan Ibu Jadi Motivasi Terbesar Abdullah Rasyiid
Di balik seluruh pencapaian yang diraihnya, terdapat satu sosok yang selalu menjadi sumber semangat bagi Abdullah Rasyiid, yaitu sang ibu.
Ia mengaku momen paling emosional dalam hidupnya terjadi ketika berhasil mengabarkan kelulusan kepada ibunya.
Baginya, gelar sarjana bukan hanya simbol keberhasilan pribadi, melainkan bentuk tanggung jawab yang berhasil ditunaikan kepada keluarga yang selama ini berjuang bersama.
Perasaan lega dan haru bercampur menjadi satu karena ia berhasil membuktikan bahwa pengorbanan yang dilakukan selama bertahun-tahun tidak sia-sia.
Ingin Jadi Engineer dan Ciptakan Lapangan Kerja
Setelah menyelesaikan pendidikan tinggi, Rasyiid tidak berhenti bermimpi.
Ia memiliki target untuk berkarier sebagai engineer di bidang sistem kendali dan otomatisasi industri, sesuai dengan bidang keilmuan yang ditekuninya selama kuliah.
Di sisi lain, ia juga bertekad mengembangkan bisnis digital printing yang telah dirintis sejak menjadi mahasiswa.
Harapannya, usaha tersebut tidak hanya menjadi sumber penghasilan pribadi, tetapi juga mampu membuka peluang kerja bagi masyarakat di sekitarnya.
Melalui perjalanan hidupnya, Abdullah Rasyiid ingin menunjukkan bahwa kesulitan ekonomi bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari keterbatasan, seseorang dapat belajar menjadi lebih kuat, mandiri, dan mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi orang lain.
Kisah Abdullah Rasyiid Hariyono menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh kondisi awal seseorang. Dengan tekad yang kuat, disiplin dalam menjalankan prioritas, serta kemauan untuk terus belajar, setiap tantangan dapat diubah menjadi pijakan menuju kesuksesan.
