Aceh Besar Bidik Tembakau sebagai Komoditas Unggulan Baru
ACEHPEDIA.COM | ACEH BESAR – Pemerintah Kabupaten Aceh Besar membuka peluang besar bagi pengembangan budidaya tembakau sebagai salah satu komoditas pertanian unggulan yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat perekonomian daerah. Langkah tersebut mendapat dukungan dari Persatuan Pengusaha Rokok Indonesia (PPRI) yang menyatakan komitmennya membangun ekosistem tembakau mulai dari budidaya hingga pemasaran hasil panen.
Komitmen itu mengemuka dalam pertemuan antara jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPRI dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar yang berlangsung di Auditorium Malahayati Puslatbang KHAN LAN RI, Kota Jantho, Sabtu (27/6/2026).
Audiensi tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris yang akrab disapa Syech Muharram bersama Wakil Bupati Drs. Syukri A. Jalil. Turut hadir Ketua Umum DPP PPRI Gus Muhammad Afwan Zaini, Sekretaris Jenderal PPRI Dedi Darmadi, Ketua PPRI Aceh Said Mukhtar, serta perwakilan PT Bawang Mas Grup dari Madura yang selama ini dikenal bergerak di sektor agribisnis tembakau.
Dalam pertemuan tersebut, Ketua PPRI Aceh Said Mukhtar menjelaskan bahwa organisasinya dibentuk sebagai wadah untuk memperkuat industri hasil tembakau yang legal sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Ia menilai Aceh memiliki kondisi geografis yang mendukung untuk pengembangan tanaman tembakau. Bahkan, salah satu anggota PPRI di Aceh Besar telah memproduksi rokok yang dipasarkan ke berbagai daerah di Provinsi Aceh.
Menurutnya, pengembangan budidaya tembakau akan memberikan dampak ekonomi yang luas apabila dikelola secara terintegrasi, mulai dari proses penanaman hingga pemasaran produk akhir.
“Kami berharap Aceh Besar dapat menjadi daerah percontohan pengembangan tembakau sehingga mampu membuka lapangan pekerjaan baru dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujarnya.
Ketua Umum DPP PPRI Gus Muhammad Afwan Zaini menegaskan keberhasilan budidaya tembakau tidak hanya bergantung pada kesuburan lahan, tetapi juga memerlukan dukungan pendampingan teknis dan jaminan pasar bagi hasil panen petani.
Ia menyampaikan terdapat tiga aspek utama yang harus dipenuhi agar program pengembangan tembakau berjalan berkelanjutan.
Pertama, tersedianya lahan yang sesuai untuk budidaya. Kedua, peningkatan kapasitas petani melalui pelatihan dan pendampingan secara berkesinambungan. Ketiga, adanya kepastian pembelian hasil panen sehingga petani memperoleh keuntungan yang layak.
Menurutnya, apabila ketiga faktor tersebut berjalan seiring, maka budidaya tembakau dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi baru di Aceh.
Bupati Muharram: Pemerintah Terbuka untuk Kolaborasi
Menanggapi rencana tersebut, Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris menyatakan pemerintah daerah menyambut baik setiap bentuk investasi maupun kerja sama yang berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ia menegaskan pembangunan ekonomi Aceh Besar tidak hanya bertumpu pada industri berskala besar, tetapi lebih mengutamakan penguatan sektor-sektor produktif yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Menurut Muharram, sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan hingga UMKM masih menjadi fondasi utama pembangunan ekonomi daerah.
“Kami membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki tujuan membangun ekonomi masyarakat. Pertanian tetap menjadi kekuatan utama Aceh Besar,” katanya.
Muharram menjelaskan Kabupaten Aceh Besar memiliki wilayah sekitar 3.000 kilometer persegi dengan dominasi kawasan pertanian dan perkebunan yang masih sangat potensial dikembangkan.
Kondisi tersebut dinilai menjadi modal penting apabila budidaya tembakau benar-benar diwujudkan dalam skala yang lebih luas.
Namun demikian, ia mengakui bahwa tantangan terbesar saat ini bukan terletak pada ketersediaan lahan, melainkan kemampuan sumber daya manusia dan keterbatasan akses pembiayaan bagi petani.
Menurutnya, petani Aceh Besar masih membutuhkan pendampingan mulai dari teknik budidaya, pengelolaan lahan, hingga proses pascapanen agar mampu menghasilkan tembakau berkualitas tinggi.
Selain itu, dukungan modal usaha juga menjadi faktor penting agar petani dapat menjalankan budidaya tanpa menghadapi kendala finansial sejak awal.
Dalam kesempatan tersebut, Muharram juga mengungkapkan pengalaman petani Aceh Besar yang kerap menghadapi fluktuasi harga komoditas pertanian.
Ia mencontohkan komoditas cabai yang sering mengalami penurunan harga drastis saat panen raya sehingga menyebabkan kerugian bagi petani.
Fenomena serupa juga terjadi pada sejumlah komoditas lainnya ketika produksi melimpah tetapi tidak diimbangi dengan kepastian pasar.
Karena itu, ia berharap kerja sama bersama PPRI tidak hanya berhenti pada proses budidaya, tetapi juga menghadirkan sistem pemasaran yang mampu menyerap hasil panen petani secara berkelanjutan.
Dengan adanya kepastian pembeli, petani diharapkan tidak lagi mengalami kerugian akibat anjloknya harga ketika musim panen tiba.
Program Pertanian Terus Diperkuat
Muharram menjelaskan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar saat ini terus memperkuat berbagai program pengembangan sektor pertanian.
Beberapa di antaranya adalah pengembangan jagung di kawasan Lembah Seulawah serta budidaya padi gogo yang dinilai lebih adaptif terhadap kondisi lahan kering.
Selain itu, Aceh Besar juga memiliki sekitar 22 ribu hektare lahan persawahan. Sekitar 55 persen di antaranya telah didukung jaringan irigasi, sementara sisanya masih mengandalkan curah hujan.
Pemerintah daerah terus mencari berbagai solusi agar lahan tadah hujan dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga frekuensi panen dapat meningkat hingga dua kali dalam setahun.
Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperbaiki pendapatan petani.
Bupati Muharram berharap budidaya tembakau dapat menjadi salah satu komoditas unggulan baru yang memberikan nilai tambah bagi sektor pertanian Aceh Besar.
Ia optimistis apabila didukung teknologi budidaya, pembinaan petani, serta pasar yang jelas, maka tembakau Aceh memiliki peluang bersaing dengan daerah penghasil tembakau lainnya di Indonesia.
Menurutnya, keberhasilan komoditas baru tersebut akan membuka lapangan kerja, memperluas aktivitas ekonomi pedesaan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.
Ia bahkan berharap suatu saat nanti tembakau asal Aceh mampu dikenal sebagai produk berkualitas tinggi yang memiliki daya saing nasional.
Pertanian Dinilai Lebih Berkelanjutan
Di akhir pertemuan, Muharram menegaskan bahwa sumber daya alam seperti minyak dan gas memiliki keterbatasan sehingga tidak dapat menjadi tumpuan ekonomi selamanya.
Sebaliknya, sektor pertanian merupakan bidang yang dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan apabila didukung kebijakan yang tepat dan kolaborasi berbagai pihak.
Karena itu, ia menilai pengembangan komoditas tembakau merupakan salah satu peluang strategis untuk memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus memperluas sumber pendapatan daerah di masa depan.
Dalam forum yang sama, PT Bawang Mas Grup dari Pamekasan, Madura, turut mempresentasikan pengalaman mereka dalam mengembangkan budidaya tembakau berkualitas.
Perusahaan tersebut menjelaskan berbagai tahapan penting mulai dari pemilihan bibit unggul, penentuan lokasi tanam di kawasan pegunungan, teknik budidaya modern, hingga proses menghasilkan daun tembakau dengan kualitas terbaik.
Pengalaman perusahaan di sektor agribisnis diharapkan dapat menjadi referensi sekaligus bahan pembelajaran apabila pengembangan tembakau mulai diterapkan di Aceh Besar.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi industri, perusahaan, dan petani dinilai menjadi kunci utama agar rencana tersebut mampu memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat.





