Berita AcehBreaking NewsPendidikan

Buka Raker , Safrizal Tekankan 5 Hal untuk Pengembangan USK

5
Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Syiah Kuala (USK) Dr. Safrizal ZA, membuka rapat kerja USK, Jumat malam, 2 Oktober 2026

ACEHPEDIA.COM | Takengon — Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Syiah Kuala (USK) Dr. Safrizal ZA, membuka rapat kerja USK, Jumat malam, 2 Oktober 2026. Acara tersebut digelar di ballroom Gayo Petro Hotel, Kota Takengon, Aceh Tengah.

Dalam amanatnya, Ketua MWA USK menyampaikan anggota Majelis Wali Amanat memiliki tanggung jawab mengawal kepemimpinan Rektor USK Prof. Dr. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A., D.B.A.

Dalam pidatonya, Safrizal menyebutkan tema raker yaitu “Penguatan good university governance, hilirisasi dan inovasi riset berkelanjutan serta peningkatan IKU menuju USk bereputisi global” merupakan tema yang besar. Setiap fakultas harus diberikan tanggung jawab untuk mewujudkan tercapainya tujuan sesuai dengan tema yang diusung. Semua tanggung jawab harus diukur dengan skor tertentu. Bila tidak tercapai, dekan harus dievaluasi. Bila mampu, maka harus diberikan apresiasi.

Dengan anggaran yang hanya Rp900 miliar, USK memiliki tanggung jawab besar. Dengan demikian efisiensi wajib diterapkan, dan inovasi harus dilahirkan.

Dunia terus berubah. Evolusi peradaban dan revolusi Industri terus berjalan. Dengan demikian sumber keunggulan juga berubah. Di era industri 1.0, sumber keunggulan berasal dari sumber daya alam. Kemudian beralih menjadi era industri 2.0, mesin dan sumber daya alam menjadi modal. Di era industri 4.0, sumber keunggulan sudah berubah menjadi artificial intelligence (AI), internet of things (IoT), big data, cloud, robotic, biotecnology.
Sedangkan saat ini dunia sedang berada dalam masa transisi menuju dan memasuki era Industri 5.0.

Tiga pilar utama era industri 5.0 yaitu human centric, sustainability, dan resilience. Di tahap ini tantangan semakin besar.

Sebagai kampus dengan status Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN BH), kata Safrizal, USK memiliki lima tantangan yang harus dijawab.

Pertama, tantangan menciptakan nilai tambah. Misalnya kehadiran USK harus mampu memberikan nilai tambah untuk komoditas pertanian yang dihasilkan oleh Aceh Tengah yang dikenal sebagai sentra pertanian di Aceh.

Kedua, tantangan penguasaan teknologi. USK harus mampu menjadi kreator teknologi. Untuk mewujudkan itu, USK harus memperbanyak lini bisnis kampus. Para dekan harus menciptakan penghasilan yang nantinya dapat dijadikan modal untuk melakukan berbagai inovasi.

Ketiga, USK harus mampu melahirkan riset yang banyak untuk membantu menciptakan peluang baru.

Keempat, mendorong talenta-talenta di USK menjadi sesuatu yang memiliki nilai besar bagi dunia ilmu pengetahuan dan kebutuhan industri.

Kelima, dalam menghadapi kompetisi global, USK harus mampu mengubah sumber daya menjadi keunggulan. Selanjutnya keunggulan harus mampu diubah menjadi inovasi.

“USK sering kita sebut besar. Kita harus bertanggung jawab atas nama besar itu. Aceh kaya tapi tak memiliki industri yang memadai untuk mengolah sumber daya Aceh medapatkan nilai tambah. USK harus mampu mendorong lahirnya industri yang menciptakan nilai tambah. Ini tugas Rektor. Beliau harus mampu berkomunikasi dengan stakeholder di luar kampus, supaya sumber daya bisa diubah menjadi keunggulan, ” kata Safrizal.

Di ujung pidatonya, Safrizal yang merupakan Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan (Bina Adwil) Kementerian Dalam Negeri, berpesan, USK harus mampu menciptakan bibit-bibit unggul bidang pertanian. Aceh dikenal dengan pertaniannya. Ekonomi Aceh yang selama ini bergantung pada belanja pemerintah, kembali dibelanjakan keluar untuk membeli benih dan bibit dari luar.

“Kita selama ini impor semua kebutuhan. Kita hanya surplus padi sebelum bencana. Kampus harus mampu menciptakan benih dan bibit unggul untuk sektor pertanian. Supaya uang Aceh tidak semakin banyak mengalir ke luar, ” imbuhnya.

Exit mobile version