Berita AcehBreaking News

Safrizal ZA Dorong Dokter Turun Langsung ke Huntara Aceh Tamiang, USK Perkuat Layanan Kesehatan Pascabanjir

18
Safrizal ZA
Safrizal ZA kunjungi penyintas banjir di Hunian Sementara (Huntara) Kabupaten Aceh Tamiang, Senin (15/6/2026).

“Safrizal ZA mendorong dokter turun langsung melayani penyintas banjir di Huntara Aceh Tamiang. USK memperkuat layanan kesehatan dan pemulihan pascabencana”.

ACEHPEDIA.COM | Aceh Tamiang – Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Syiah Kuala (USK) sekaligus Ketua Posko Wilayah Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh, Dr. Safrizal ZA, menegaskan bahwa keselamatan masyarakat, khususnya di sektor kesehatan, menjadi prioritas utama dalam penanganan pascabencana.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui inisiatif Universitas Syiah Kuala yang menurunkan tim Fakultas Kedokteran USK untuk memperkuat layanan kesehatan bagi penyintas banjir di Hunian Sementara (Huntara) Kabupaten Aceh Tamiang, Senin (15/6/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemulihan pascabencana yang tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memastikan masyarakat terdampak memperoleh layanan kesehatan yang memadai.

Dalam kunjungannya, Safrizal ZA menegaskan perlunya pendekatan baru dalam penanganan kesehatan saat kondisi darurat bencana.

Menurutnya, pelayanan kesehatan tidak boleh menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan, melainkan tenaga medis yang harus aktif menjangkau warga terdampak.

“Dalam kondisi darurat bukan masyarakat yang datang, tapi dokter-dokter yang harus datang. Ini bagian dari bakti perguruan tinggi kepada masyarakat,” ujar Safrizal.

Sebagai bentuk implementasi, USK menurunkan sejumlah tenaga spesialis yang terdiri dari dokter spesialis jantung anak, spesialis obstetri dan ginekologi, hingga psikolog untuk membantu proses pemulihan kesehatan fisik dan mental para penyintas banjir.

Perguruan Tinggi Didorong Berkontribusi dalam Penanganan Bencana

Safrizal berharap langkah yang dilakukan USK dapat menjadi contoh bagi perguruan tinggi lain untuk ikut berkontribusi dalam proses pemulihan pascabencana.

Ia membuka peluang kolaborasi dengan berbagai kampus di Aceh maupun Sumatera Utara guna memperluas jangkauan layanan kesehatan dan pendampingan sosial bagi masyarakat terdampak.

Menurutnya, kehadiran akademisi dan tenaga profesional di tengah masyarakat menjadi bentuk nyata pengabdian ilmu pengetahuan kepada kemanusiaan.

“Tim yang telah turun ke masyarakat, tolong catat apa yang bisa diberikan kepada saya baik sebagai Ketua MWA atau sebagai Kepala Posko Satgas Bencana. Sarankan kepada kami apa yang bisa kita lakukan,” pesannya kepada tim medis dan akademisi yang bertugas.

Safrizal menekankan bahwa hasil temuan di lapangan sangat penting sebagai bahan evaluasi dan masukan bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan rehabilitasi dan rekonstruksi yang lebih efektif.

Dalam kesempatan tersebut, Safrizal juga mengingatkan bahwa hakikat ilmu pengetahuan adalah memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.

Ia menilai keberadaan perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga harus hadir memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Ilmu tidak hanya sekadar ilmu, tetapi ilmu pengetahuan menemukan maknanya ketika ia mampu memberikan manfaat bagi manusia,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat penting bahwa peran kampus dalam situasi bencana tidak berhenti pada kajian akademik, melainkan harus diwujudkan melalui aksi nyata di lapangan.

Pemulihan Fasilitas Kesehatan Capai Hampir 100 Persen

Di tingkat makro, proses pemulihan sarana dan prasarana kesehatan pascabencana di wilayah terdampak menunjukkan perkembangan yang sangat positif.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan Posko Satgas PRR per 8 Juni 2026, seluruh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan Puskesmas di tiga provinsi terdampak yang sebelumnya sempat berhenti beroperasi kini telah kembali memberikan pelayanan secara normal.

Selain itu, dari total 2.952 Puskesmas Pembantu yang terdampak, sebanyak 99,76 persen telah kembali beroperasi. Hanya tersisa enam unit yang masih menggunakan bangunan sementara atau gedung pengganti.

Capaian tersebut menunjukkan percepatan pemulihan layanan kesehatan berjalan sesuai target dan mampu menjamin akses pelayanan bagi masyarakat.

Tinjau Sumur Bor dan Pasokan Air Bersih

Selain sektor kesehatan, kunjungan kerja Safrizal ZA di Aceh Tamiang juga difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya penyediaan air bersih.

Ia meninjau langsung sumur bor yang telah dibangun Satgas PRR di Gampong Johar. Fasilitas tersebut kini menjadi sumber utama pasokan air bersih bagi masyarakat setempat.

Di kawasan tersebut tercatat terdapat sekitar 300 kepala keluarga yang masih terdampak banjir. Sebanyak 20 kepala keluarga telah menerima Dana Tunggu Hunian (DTH), sedangkan 280 kepala keluarga lainnya masih menunggu proses verifikasi bantuan perbaikan rumah kategori rusak ringan dan sedang.

Kunjungan di Aceh Tamiang ditutup dengan peninjauan kondisi PDAM yang mengalami kerusakan pada mesin intake serta ribuan meteran pelanggan akibat dampak bencana.

Untuk mendukung pemulihan layanan air bersih, Safrizal menyampaikan bahwa Satgas PRR akan segera menyalurkan bantuan sebanyak 25 ton polyaluminium chloride (PAC) standar food grade yang digunakan dalam proses penjernihan air secara massal.

Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat normalisasi distribusi air bersih kepada masyarakat serta mendukung pemulihan kualitas hidup warga terdampak banjir di Aceh Tamiang.

Dengan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan berbagai pihak terkait, proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh diharapkan dapat berjalan lebih cepat, efektif, dan berkelanjutan.


Kunjungi Juga Media Sosial Kami : Facebook | Instagram

Exit mobile version